Buntut Penembakan PL oleh Anggota Polisi, Ormas Muslim di Garut Sepakat untuk Menutup Tempat Karaoke

GARUT (GE).- Insiden peluru nyasar yang dilakukan Anggota Polsek Pakenjeng di salah satu tempat hiburan malam di Jl. Perintis Kemerdekaan Garut, Jawa Barat, membuat Organisasi Masyarat (Ormas) Muslim di Garut tergerak. Jumat 13 Oktober 2017 bertempat di Gedung Islamic Center perkumpulan Ormas Islam Garut menggelar dialog dan mendesak Pemkab Garut untuk segera menutup tempat karaoke yang membandel.

Ditemui usai kegiatan, Ketua Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) Kabupaten Garut, Dedu Kurniawan, mengatakan umat muslim di Garut mesti menguatkan ikat pinggang untuk memerangi berbagai bentuk kemaksiatan. Oleh sebab itu pembentukan forum yang terdiri dari berbagai Ormas perlu dilakukan.

Apalagi, lanjut Dedi, belum lama ini terjadi insiden penembakan di salah satu tempat hiburan di Garut. Peristiwa tersebut tentunya menjadi tamparan bagi umat islam dan pemerintah di Garut.


Oleh sebab itu, melalui forum ini merekomendasikan kepada pemerintah Garut agar segera menutup tempat hiburan yang meresahkan. Langkah ini perlu dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda dari berbagai tindak kemaksiatan.

“Menghindari Garut dari Kota maksiat maka kami berkumpul untuk merumuskan ukhuah islamiah dibidang dakwah. Hasil pertemuan ini nantinya akan jadi landasan pemerintah untuk menutup tempat hiburan yang kerap meresahkan warga,” ujar Dedi.

Sementara itu, Ketua FPI Kabupaten Garut, Sulaiman menjelaskan, pihaknya merasa malu dengan adanya insiden penembakan tersebut. Bahkan jika di tinjau dari Perda K3 tentang karaoke family yang di batasi operasinya hingga pukul 23.00 Wib kebanyakan tempat karaoke di Garut telah melanggar Perda. Sebab banyak tempat karaoke yang nekat buka hingga larut malah bahkan ada yang sampai dini hari.

“Kalo dilihat dari perda K3 jelas itu melanggar aturan, karena batas oprasi sampai jam 23 saja dan tidak boleh jual miras, terkait insiden penembakan itu sangat keterlaluan ngapain Polisi bawa-bawa senjata ke tempat hiburan. Petani saja tidak bawa cangkul ke bioskop,” pungkasnya. (Fauziani)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI