Belum Dilirik Pemkab, Gita Tetap Konsisten Ciptakan Solusi Masalah Sampah di Garut

KOMUNITAS Paragita saat mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan dari sampah di Desa Cikembulan, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (4/1/2016).*

GARUT, (GE).- Di saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut kelimpungan menanggulangi masalah sampah, sebenarnya ada komunitas yang telah lama bekerja menciptakan solusinya. Yayasan Paragita sejak lama gembar gembor menciptakan solusi agar sampah bisa menjadi barang yang bermanfaat. Bahkan bisa menjadi sumber untuk mengais rezeki. gita-nurwardani

Sosok Gita Nurwardani, menjadi penggagasnya. Aktivis wanita yang satu ini, bisa membuat sampah menjadi barang yang bermanfaat. Bahkan di tangan gita sampah yang sudah tidak ada nilainya bisa menjadi barang antik dan unik.

Sampai saat ini, hasil kerja keras Gita sudah mulai menunjukkan hasilnya. Setidaknya ada 20 desa yang sudah ikut bergabung bersama Yayasan Paragita dalam usaha pengelolaan sampah.

Kepada “GE”, Gita, mengatakan permasalahan sampah di Garut sebenarnya masih bisa ditanggulangi. Asalkan pemerintah mau berpikir kreatif. Pasalnya, penanggulangan sampah tak sekadar mengangkut dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tapi, penanggulangannya harus dimulai dari sumbernya.

“Sementara ini, pemerintah hanya berpikir bagaimana bisa menambah armada pengangkut sampah atau memperluas tanah untuk pembuangan sampah. Padahal itu semua hanya bersifat sementara,” katanya, Rabu (04/01/2017).

Gita menganalogikan, saat dirumah banyak baju menggantung bukan berarti harus menambah gantungan bajunya. Pasalnya, semakin banyak gantungan baju akan semakin banyak juga baju yang menggantung.

Saat ini kata Gita, telah ada 20 desa yang ikut bergabung dengan dirinya melakukan gerakan penanggulangan sampah. Gita mengaku, dirinya hanya memberikan kemampuan mengolah sampah jadi kerajinan. Lalu membuka pemasaran produk yang dihasilkannya.

“Dari komunitas yang telah dibina, rata-rata hanya dalam waktu tiga bulan mereka sudah bisa mandiri. Bahkan perkembangannya sudah melebihi harapan,” ujar Gita.

Ia mencontohkan, salah satu komunitas binaannya di Desa Cikembulan, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengaku kekurangan sampah untuk dikelola. Sehinga komunitas tersebut sudah mulai mencari sampah ke daerah lain.

Selain itu, ada juga komunitas yang dibentuknya di Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, yang berhasil mengolah sampah limbah kulit. Sehingga kini mereka sudah bisa menjadikan sampah sebagai sumber penghidupan.

Gita berharap, pemerintah juga bisa ikut terlibat dalam menyosialisasikan penanggulangan sampah dari sumbernya ini. Sehingga Pemkab Garut bisa mengirit anggaran dalam mengelola sampah.

“Dari pada membeli alat berat dan truk pengangkut sampah lebih baik digunakan sosialisasi memberikan keterampilan kepada masyarakat dalam menanggulangi sampah,” pungkasnya. (Farhan SN)***