BBKSDA Tutup Saluran Air Objek Wisata Darajat

PASIRWANGI, (GE).- Salah satu saluran air menuju objek wisata Darajat di Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, diputus Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Penutupan saluran air dari kawasan Cagar Alam Papandayan itu dilakukan berdasarkan desakan masyarakat.

Toni Ramdani yang merupakan Kepala Seksi BBKSDA Wilayah V Jawa Barat mengungkapkan, saluran air yang ditutup ini berada di lima titik dalam dua lokasi, yaitu lokasi Kawah Darajat dan Kawah Manuk. Penutupan ini dilakukan setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan unsur pimpinan di tingkat Provinsi.

“Desakan penutupan saluran air sebenarnya sudah lama. Namun kami mesti menempuh beberapa mekanisme seperti berkoordinasi dengan pimpinan yang lebih tinggi. Setelah semua dipenuhi, baru aksi penutupan ini dilakukan,” jelas Toni, Rabu (23/08/2016).

Selain BBKSDA, penutupan yang berlangsung pukul 11.00 WIB siang itu melibatkan unsur kepolisian, dan elemen masyarakat. Toni membenarkan bila saluran air dari kawasan yang dikelola BBKSDA ini, mengalir ke sejumlah objek wisata Darajat.

“Kami memutus saluran air di kawasan yang kami kelola saja. Kemana saja air itu mengalirnya, harus dicek,” ujarnya.

Permintaan penutupan saluran air ini sendiri terjadi setelah sejumlah warga melaporkan perihal penggunaan air dari tanah negara, oleh pihak swasta di kawasan objek wisata Darajat, ke Polres Garut pada 27 Juli 2016 lalu. Seorang warga Kabupaten Garut, Mulyono Kadafi, 40, menjelaskan, laporan ini didasarkan atas penggunaan air yang dinilai menyalahi undang-undang.

“Dasar laporan kami adalah UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang air. Di dalam Pasal 15 huruf a dijelaskan, bahwa pengusahaan air dapat dilakukan setelah ada ijin dari pemerintah. Sementara penggunaan air di kawasan wisata Darajat itu semua tak berijin,” kata Mulyono.

Mulyono menyebutkan, pihaknya sempat melakukan pengecekan terkait tak berijinnya penggunaan air ini oleh para pengelola objek wisata ke sejumlah instansi pemerintah daerah.

“Namun jawabannya seolah dilempar-lempar, tidak jelas. Saya sempat menanyakan ke pihak SDAP (Sumber Daya Air Mineral dan Pertambangan) tapi dilempar ke BPMPT (Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu), lalu saat di BPMPT, saya dilempar lagi karena urusan pengelolaan air sedang dikoordinasikan oleh Asda II (Asisten Daerah). Makanya langsung lapor ke polisi saja,” bebernya.

Ditambahkannya, pihaknya menggunakan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 121 Tahun 2015, yang juga berisi mengenai pengusahaan air dalam laporan ke aparat kepolisian. Mulyono menyebut, penggunaan air di kawasan objek wisata Darajat bukan hanya bersumber dari lahan Cagar Alam Papandayan yang dikelola oleh BBKSDA, melainkan juga berasal dari lahan Perum Perhutani.

“Sumber air yang diambil dari lahan Perhutani itu berlokasi di Petak 38, Blok Cipanday, BPKH Asper Bayongbong. Cuma bedanya, Perhutani belum melakukan tindakan pemutusan air seperti yang dilakukan oleh BBKSDA ini,” ungkapnya.

Mulyono menyebut sejumlah pihak terkait telah dimintai keterangan oleh aparat kepolisian perihal laporannya tersebut. “Siapa-siapa saja yang telah diperiksa, saya tidak tahu. Namun yang jelas aparat kepolisian sudah memanggil sejumlah orang dalam laporan ini,” jelasnya. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN