Bayu Tresna Sunda, Mahasiswa STIKes yang Sukses di Bisnis Penginapan. Begini Kisahnya…

Bayu Tresna Sunda.***

MENYADARI kerasnya menjajalani hidup di tengah lingkungan pesisir yang dalam proses pencarian nafkah, masyarakat setempat mesti bertarung melawan ketidakpastian. Terlebih, mereka juga dihadapkan pada rotasi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, sehingga berimbas sepinya tangkapan ikan para nelayan sebagai mata pencaharian pokok mereka.

Bagi sebagian orang, mungkin saja merasa miris menghadapi kondisi seperti itu. Jangankan bisa eksis mengembangkan diri, untuk bertahan hidup normal saja mesti banting tulang melakoninya. Namun, lain halnya dengan pemuda pesisir Santolo lulusan SMAN 5 Garut tahun 2015 lalu, Bayu Tresna Sunda. Anak sulung pasangan Enur Karsono dan Ina Herlina itu, memandang kondisi tersebut justru menjadi motivasi untuk bangkit dari keterpurukan.

Di sela kegalauannya pasca lulus SMA, sebagai anak nelayan tulen, dirinya dihadapkan pada dua pilihan antara  melanjutkan kuliah dengan tuntutan nurani ingin melihat kedua orang tuanya tersenyum lepas dari himpitan beban ekonomi yang kian menghujam. Terlebih melihat adik kesayangannya, Ayu Kusumah Sunda yang masih duduk di kelas V SDN Pamalayan 3. Akhirnya pemuda hitam manis kelahiran Garut, 25 November 1996 itu, mesti rela menanggalkan keinginananya menyandang status mahasiswa saat itu.


Meskipun begitu,  dirinya tak rela dicap sebagai  pengangguran. Sambil melirik berbagai potensi yang bisa dikembangkan, termasuk merintis bisnis penginapan dan sesekali ikut berlabuh di lautan lepas mencari ikan bersama orang tua dan nelayan  lainnya. Namun di kala cuaca buruk, ia intensf menjaga pom bensin mini  sebagai lahan bisnis keluarga yang didirikan di depan rumahnya di Jalan Raya Cilauteureun RT 01/10, Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Tak sampai di situ, aktivitas meringankan beban orang tua ia jalani dengan bertani menanam jagung memanfaatkan lahan kosong. Pada satu kesempatan pernah pula ikut testing menjadi TNI, namun gagal.

“Kegagalan testing menjadi TNI saya jadikan motivasi untuk terus berjuang menggapai cita-cita,” tuturnya.

Lirik Destinasi Pariwisata

Perbincangan warga Santolo yang merasa diuntungkan dengan banyaknya pengunjung menikmati keindahan pantai. Setiap minggu dan moment  tahun baru serta Iedul Fitri wisatawan berbondong-bondong mengunjungi destinasi wisata bahari unggulan Garut Selatan, menginspirasi nurani Bayu untuk menyediakan fasilitas penginapan yang lokasinya dekat dengan laut, nyaman dan aman.

Bermodal hasil usaha serabutan, awal tahun 2015 dengan dibimbing orang tuanya, Bayu mendirikan penginapan “Bayu Samudra”. Lokasinya berhadapan dengan gedung Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Pameungpeuk. Seiring berjalannya waktu dan bukan tanpa rintangan, penginapan yang dipasarkan secara on line itu laris manis dikunjungi para pelanggan yang berasal dari berbagai tempat.

“Alhamdulilah, kalau dirata-rata, setiap bulan bisa menghasilkan sepuluh juta rupiah,” ujar Bayu bangga.

Setelah dirasa keuangannya stabil dan lambat laun ekonomi keluarganya mulai membaik, di tahun 2016 lalu Bayu tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan segera mendaftarkan diri kuliah di STIKes Karsa Husada D-3 Keperawatan. Untuk menunjang kelancaran mobilisasi kuliah di kota Garut dan usaha di Santolo Garut Selatan, kini pemuda yang rajin menunaikan sholat 5 waktu itu hilir-mudik mengendarai mobil pribadi hasil jerih payahnya sendiri.

“Mudah mudahan semuanya berjalan lancar,” harapnya.

Tidak Aman, Gratis

Tak banyak fasilitas yang ditawarkan penginapan “Bayu Samudra”. Selain sangat dekat dengan pantai, penginapannya difasilitasi 8 buah kamar ukuran 3 x 4 m, 3 x 5 m dan 4 x 4 m. Dilengkapi 13 kamar mandi, mushala, dan kantin. Selain itu, Bayu juga selalu menjaga kebersihan, serta berupaya menjaga kenyamanan dan keamanan para pelanggan.

“Para pengunjung pasti ingin mendapat kenyamanan, untuk itu kami anggap mereka sebagai saudara dan tamu yang wajib kita jaga dan kita lindungi,” ungkapnya.

Umumnya para pelanggan, kata Bayu,  selalu menanyakan keamanan sebelum menginap. Karena itu, ia menjamin para pelanggan terbebas dari gangguan tangan usil.

“Kami jamin para pelanggan betah di sini. Apabila tidak aman, pelanggan tidak usah bayar alias gratis,” janjinya.

Bayu pun mengimbau agar masyarakat Garut Selatan dan para pelaku usaha pariwisata bahu-mambahu menciptakan suasana nyaman dan aman, sehingga para wisatawan akan betah berlama-lama menikmati masa liburannya. (Roy/GE)***

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI