Bawang Merah Impor Ancaman Bagi Petani Garut

????????????????????????????????????

TARKA, (GE).- Lagi lagi, petani kita dihantam persaingan tak seimbang oleh komoditi impor. Kali ini para petani bawang merah di kawasan Kecamatan Cikajang, Bayongbong, Samarang, Sucinaraja dan lainnya di Kabupaten Garut yang meradang. Hal ini menyusul datangnya bawang merah infor dari luar.

Masuknya bawang merah di antaranya dari Tiongkok tersebut dinilai petani dapat menghancurkan harga bawang lokal di pasaran. Tatang Hidayat (52) salah seorang petani bawang merah asal Kecamatan Samarang mengungkapkan, sejak masuknya bawang merah impor belakangan ini, membuat harga bawang merah lokal anjlok. “Sebelumnya, pada awal bulan lalu, harga bawang merah cukup lumayan, mencapai Rp 20 rebu/kg, kemudian turun menjadi Rp. 15 ribu, bahkan tadi melorot lagi hingga Rp. 13 ribu/kg,”tutur Tatang.

Petani lainnya, Idrus (43) asal Cikajang menyebutkan, persediaan bawang merah di sejumlah pasar tradisional di Garut sekarang ini lebih dari cukup. Sehingga harga pun turun. “Ayeuna katambihan deui bawang impor, atuh beuki hancur,” ucapnya.

Sejumlah pedagang sayuran di Pasar Induk Guntur Ciawitali mengaku, bawang merah impor mulai masuk Pasar Garut sejak awal bulan April ini. Meskipun tidak terlalu banyak yang berjualan, tetapi kehadiran bawang merah impor tersebut dapat mengancam petani dan pedagang itu sendiri.
Selain harganya bisa dibawah harga bawang merah lokal, juga kemasannya pun berbeda dan relatif lebih baik. Tono (55) salah seorang pedagang bawang di Blok B Pasar Induk Ciawitali mengatakan, harga bawang merah lokal sekarang ini masih dikisaran Rp 32-35 ribu. Sedangkan harga bawang merah impor Rp 28 ribu per kilogram. “Adanya selisih yang cukup jauh itu, tentunya akan sangat berpengaruh terhadap bawang merah lokal,” ujarnya.
Sementara itu, Kasubag TU UPTD Pasar Guntur Ciawitali, H. Ahmad Wahyudin menerangkan, bawang merah impor mulai masuk dan terlihat di Pasar Garut dalam beberapa hari terahir. Namun, kata dia, para pedagang yang menjual bawang merah impor belum begitu banyak dan pedagangnya pun masih terbatas.

Menurut Ahmad, banyaknya bawang merah impor dari luar Indonesia, terutama dari Tiongkok dimungkinkan akibat mulai diberlakukannya pasar global, yaitu masyarakat ekonomi asean (MEA). “Meskipun Tiongkok bukan negara Asean tetapi bisa saja bawang itu masuk dulu ke negara Asean lalu di impor ke Indonesia,” ujarnya.

Sependapat dengan para petani dan pedagang, Ahmad memperkirakan, masuknya bawang merah impor tersebut akan berdampak luas, selain kepada para petani, bandar, juga pada pedagang dan konsumennya. Karena harga bawang lokal akan tersaingi. “Dan sudah pasti petani pun akan merasa was-was karena takut bawang merah lokal tidak laku.” pungkas Ahmad, Rabu (14/4/2016). (Slamet Timur).***