Batu Zaman Megalitikum Ditemukan di Leles Garut

LELES, (GE).- Kabupaten Garut terkenal dengan keragaman warisan budaya. Belakangan ini, ditemukan batu diduga menhir di Kampung Ciakar, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Batu yang kemungkinan peninggalan zaman batu besar atau megalitikum tersebut saat ini berada di salah satu kebun milik warga.

Batu yang berbentuk seperti tugu di Kampung Ciakar itu berjumlah dua bongkahan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut Budi Gan Gan mengatakan, batu diduga menhir tersebut sebelumnya berada di belakang rumah perkampungan warga sekitar Situ Cangkuang.

“Tepatnya berdiri di belakang rumah warga Kampung Ciakar. Riwayatnya memang batu itu sudah ada dari dahulu,” kata Budi, di Kecamatan Leles, Rabu (10/8/2016).

Keberadaan batu diduga menhir di tengah-tengah perkampungan ini setidaknya tak luput dari mitos dan kepercayaan masyarakat. Warga kampung, tutur Budi, mempercayai bila batu ini memiliki unsur mistis.

“Kepercayaan itu bermula dari pemilik rumah di mana batu ini sebelumnya berada. Letaknya dahulu itu ada di belakang rumah. Pemilik rumah menduga anaknya kerap rewel karena ada batu tersebut. Maka dipindahkanlah dua batu ini ke salah satu kebun warga sekitar 200 meter tak jauh dari perkampungan pada tahun 2006 lalu,” ujarnya.

Meski belum ada penelitian, lanjut Budi, warga sekitar telah menyebut kedua batu itu sebagai menhir. Ia mengaku, pemerintah baru akan melakukan menindaklanjuti temuan batu yang pada masa lalu, diduga digunakan untuk sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang tersebut.

“Pemerintah daerah akan menindaklanjuti batu ini. Pihak Disbudpar Kabupaten Garut telah melaporkan keberadaan batu diduga menhir ini ke Balai Arkeologi Jawa Barat. Harus ada penelitian secara ilmiah untuk bisa dipastikan apakah memang benar menhir, lalu usianya berapa tahun,” paparnya.

Menurut Budi, keyakinan masyarakat yang menyebut batu ini sebagai menhir masuk akal. Sepintas, kata dia, ciri dan bentuk batu itu memang persis menhir.

“Bentuknya memang mirip menhir, berupa tugu dan diletakan berdiri. Namun untuk memastikannya, memang harus diteliti. Kami belum tahu, kapan tim arkeologi akan tiba dan menelitinya,” ucapnya.

Alasan lainnya adalah batu ini berada di dekat Candi Cangkuang, yang menjadi peninggalan peradaban masyarakat Sunda di masa lalu. “Sebab di sekitar lokasi peninggalan kebudayaan masa lalu, seperti candi, selalu ada hal lain yang juga merupakan peninggalan masyarakat zaman dahulu,” katanya.

Kedua bongkah batu itu, rencananya akan dipindahkan kembali oleh pemerintah ke Situs Candi Cangkuang. “Dengan demikian, nanti akan menjadi destinasi wisata baru di Cangkuang. Tapi setelah penelitian dilakukan tentunya,” imbuhnya.

Sementara itu, seorang warga Kampung Ciakar, Desa Cangkuang, Luki Lukman (35), membenarkan jika selama ini masyarakat menyebut batu itu sebagai menhir. “Kepercayaan bahwa kedua bongkah batu itu menhir memang sudah ada sejak orang tua kami zaman dulu. Mulanya memang tepat berada di belakang rumah warga. Tapi karena dianggap memiliki nuansa negatif, jadi dipindahkan ke kebun,” kata Luki. FarhanSN***