Antisipasi Gizi Buruk, Mahasiswa Poltekes Bandung bersama Kader Wanasari Gelar Konseling

GARUT, (GE).-  Sejumlah mahasiswi dari Politekhnik Kesehetan (Poltekes)  Bandung bersama sejumlah kader kesehatan di Desa Wanasari, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menggelar konseling untuk warga sekitar. Konseling yang digelar selama dua hari (6-7/3/2017) ini merupakan upaya kalangan akademisi untuk mengantisipasi terjadinya gizi buruk.

Menurut Ketua Kelompok KKN, Siti Nurbayani, konseling ini diharapkan bisa lebih memahamkan masyarakat terkait kondisi kesehatan pada anak usia dini.  Menurutnya, ada beberapa katagori gizi pada anak, di antaranya kurang gizi, gizi baik, dan gizi lebih.

“Kita adakan sharing  bersama sejumlah ibu kader di desa (Desa Wanasari/red) ini.  Ada banyak materi kita sampaikan, misalanya  tatacara penggunaan dacin (alat menimbang bayi/red) yang baik, serta tentang standar gizi anak” tutur Siti.


Dijelaskannya, untuk mengefektifkan penerapan Kartu Menuju Sehat Balita (KMS), terlebih dahulu diperiksa kondisi kesehatan anak. Dengan demikian dapat diketahui kategori gizi berikut langkah langkah penanggulangannya.

“Deteksi awal untuk mengetahui standar gizi bisa diketahui dari berat maupun tinggi badan. Ada rumus khusus standar WHO untuk mengukur itu,” imbuhnya.

Lebih jauh Siti menjelaskan, ada beberapa faktor penentu kelangsungan gizi pada anak, termasuk erat kaitanya dengan asupan makanan sehari hari. Pengawasan ekstra menjadi hal terpenting dari semua pihak, terlebih orang tua.

“Kita masih temukan beberapa kandungan zat berbahaya pada jajanan anak terutama di lingkungan sekolah. Hari ini kita diskusikan dan pelajari bersama dengan para ibu kader. Alhamdulillah mereka begitu antusias. Saya harap mereka dapat menjadi perisai di lingkungan masing-masing nantinya,” katanya.

Sementara itu, Dr. Yudiono selaku dosen pembimbing, mengatakan,  ada 78 mahasiswa dari Poltekes Bandung yang dari mulai tanggal 28 Februari hingga 13 Maret 2017 ini menggelar KKN di wilayah Kecamatan Wanaraja.

“Mereka, ditugaskang untuk berada di tengah-tengah masyarakat selama 2 pekan guna praktek ilmu kesehatan gizi.  Ini sebagai wujud kepedulian kita (Poltekes Bandung). Setiap hari kita bekerja melakukan riset ke lapangan melalui program yang telah direncanakan. Hasilnya kita masih temui sekitar 4% anak masuk pada kategori gizi kurang. Temuan temuan tersebut kita sudah laporkan kepada Pak Camat. Alhamdulillah, beliau merespon dengan cepat,” ungkap Dr. Yudiono.

Diungkapkannya, area sekitar sekolah merupakan tempat rawan sejumlah jajanan berbahaya. Sejumlah jajanan anak di sekolah didapati banyak mengandaung zat berbahaya.

“Kita temukan kemarin, masih terdapat  kandungan zat berbahaya seperti borak dan formalin. Ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan anak. Langkah-langkah selanjutnya, mungkin kita tempuh tempuh tindakan persuasif. Nanti kita dari Poltekes akan gelar pertemuan khusus di gedung kecamatan pada tanggal 11 Maret. Di situ kita gelar pameran dan diskusi terbuka. Pada acara itu pula sejumlah kader yang selama ini telah membantu mahasiswi akan libatkan. Dan kita adakan lomba dengan rewards khusus,” urainya.

Rangkaian kegiatan mahasiswi Poltekes Bandung di Desa Wanasari ini, disambut antusias oleh sejumlah kader yang hadir. Hal ini diakui Dewi, salah seorang kader dari RW 3 Desa Wanasari.

“Ya, belajar memahami kondisi kesehatan serta standar gizi bersama para mahasiswi adalah hal sangat diperlukan dan menunjang kinerja para kader. Belajarnya enak, menyenangkan. Mahasiswi-mahasiswinya pun ramah. Ini tentu sangat bermanfaat dan akan kami aplikasikan nantinya,” tuturnya. (Doni Melody Surya)***

Editor: Kang Cep

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI