Angkernya Situ Cibuyut, dari Mitos Buaya Putih hingga Si Rawing dan Si Dongkol

KISAH angkernya Situ Cibuyut dan legenda Si Rawing-Si Dongkol tiba-tiba kembali menyeruak ke permukaan, menyusul peristiwa kecelakaan yang merenggut korban jiwa. Pada hari Kamis (23/3/17) sore sekira pukul 14.35 WIB, Encep Ismail (17), warga Kampung Cikadu RT/RW 05/03, Desa Cempaka, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, meninggal tenggelam di Situ Cibuyut yang dikenal angker.

Mitos keangkeran Situ Cibuyut dan legenda Si Rawing-Si Dongkol selama ini menjadi dongeng turun-temurun warga di sekitar Situ Cibuyut. Beberapa mitos di sekitar Situ Cibuyut di antaranya terkait air situ yang disakralkan. Warga sekitar percaya, di kawasan situ ini ada tujuh mata air yang memilki “maunat” tersendiri. Tujuh mata air tersebut di antaranya, “air kahuripan”, “air kawedukan,”  “air rohmat,” serta  “air kadigjayaan.”

Disamping itu, Situ Cibuyut juga menyimpan legenda cukup menyeramkan, yakni ikhwal Si Rawing, dan Si Dongkol.


Al kisah, Si Rawing dan Si Dongkol digambarkan sebagai sosok makhluk gaib penghuni situ. Kedua makhluk gaib ini meruakan makhluk jadi-jadian berbentuk ikan. Si Rawing, ikan tanpa daging. Sedangkan Si Dongkol berwujud ikan yang ada ‘dongkol’ di pundaknya.

Sebaian warga sekitar situ mempercayai kedua mahluk mistis tersebut  adalah pemimpin dari pasukan ikan yang ada di Situ Cibuyut. Warga sekitar ada yang percaya, jika “kawenehan” (kebetulan) kita bisa menyaksikan kejadian aneh kasat mata.

Keanehan itu ialah, ikan-ikan di sekitar situ muncul di permukaan situ dengan cara berjejer rapi dengan dipimpin Si Rawing dan Si Dongkol. Katanya, ribuan ikan ini naik melintas ke atas dan  pindah ke Situ Cieurih yang lokasinya berada di Desa Karangmulya dengan jaraknya puluhan kilometer.

Keanehan lain di Situ Cibuyut adalah mitos kemunculan air yang kerap bergolak di tengah situ. Para “karuhun” di sekitar situ menyebutkan,  pada setiap malam-malam tertentu, tepat tengah malam, air di tengah situ akan terlihat bergolak hingga menyembur ke permukaan.

Salah seorang tokoh  Cibuyut Wetan, Muhyi, mengatakan, Situ Cibuyut adalah sebuah Negara Jin terbesar di tanah Pasundan. Muhyi mengaku, dirinya kerap menjumpai buaya putih jadi-jadian.

“Saya pernah melihat, dari kejauhan ada manusia di sekitar situ. Namun saat didatangi, yang ada di situ Cibuyut malah tampak sekor buaya putih,” kisahnya.

Sementara itu, Dadi, juga warga sekitar, menyebutkan, mitos keangkeran Situ Cibuyut memang harus diwaspadai. Khususnya bagi pengunjung situ. Menururtnya ada “etika” setiap berkunjung ke kawasan Situ Cibuyut.

“Sebab bukan tidak mungkin, ada makhluk lain yang merasa terusik. Seingat saya, baru ada dua orang yang menjadi korban, atau meninggal  akibat kecelakaan di situ ini. Sebelum kejadian kemarin, beberapa waktu lalu warga Cianjur juga meningga dunia di situ ini (Situ Cibuyut/red). Kejadiannya, korban tiba-tiba saja datang dan melompat di areal sumber mata air dan kemudian ditemukan sudah tak bernyawa,” kenangnya.

Taufik Nugraha, warga setempat lainnya, menyebutkan tempat tenggelamnya korban kemarin persis berada di lokasi situ, tepat di sekitar tujuh  mata air.

“Menurut cerita karuhun Cibuyut, di areal mata air itu ditunggui oleh kura-kura raksasa. Diyakini kura-kura itu jugalah yang menjaga ikan-ikan di kawasan Situ Cibuyut,” katanya.

Menurut Muhyi, warga Cibuyut Wetan, Situ Cibuyut juga memiliki kelebihan lain. Meski kemarau panjang, air di Situ Cibubut tak pernah surut atau menyusut.  Tak heran, hingga saat ini air dari Situ Cibuyut bisa memenuhi kebutuhan air warga di lima desa sekitar situ, yang meliputi Desa Lewobaru, Sukaratu, Sukarasa, Sukajaya, dan beberapa wilayah di Kecamatan Kersamanah.

“Menurut kisah karuhun, di zaman Kerajaan Sumedang Larang, Desa Lewobaru dijuluki Dukuh Sindang Raja. Disebut dukuh, sebab sang  Raja bila hendak menuju wilayah Balubur Limbangan mesti singgah di Situ Cibuyut sekarang,” ungkap Dadi Winata, yang juga Kades Lewobaru.

Dijelaskannya,  Situ Cibuyut juga dipercaya dibangun oleh petinggi Dukuh Sindang Raja yang saat ini dikenal Desa Lewobaru, Eyang Kalimudin Raksamuddin. Situ Cibuyut mulanya berbentuk sungai kecil yang mengalir ke tujuh muara. Sungai tersebut kemudian dibendung untuk dijadikan situ. Tujuannya, untuk mengaliri beberapa sawah di kawasan tersebut yang kerap dilanda kekeringan pada masa itu. ( TAF Senopati)***

Editor: Kang Cep

 

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI