Anang Sudarna: KRS Cimanuk Terburuk se Indonesia

TARKI,(GE).-    Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, Anang Sudarna menegaskan,    Sungai Cimanuk merupakan sungai yang Koefisien Regim Sungai (KRS)-nya paling buruk. Bukan hanya se-Pulau Jawa, bahkan terburuk se Indonesia.

“Waktu musim kemarau, KRS Cimanuk nilainya 1, tapi pada musim hujan nilainya langsung melonjak menjadi 771. Ini menunjukan kondisi yang sangat tak normal,” kata Anang kepada para wartawan di sela kunjungannya ke salah satu lokasi nencana banjir bandang Kp. Cimacan, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis, (22/9/16).

Menurut, Anang, KRS adalah perbandingan debit air tertinggi dengan debit air terendah dalam satu periode. Biasanya pada saat musim hujan tertinggi dan musim kemarau terendah.
KRS yang baik mempunyai nilai 50 ke bawah. KRS kategori sedang, kata Anang, nilainya 50 – 120 dan KRS kategori buruk nilainya 120 ke atas.


Parah dan banyaknya kerusakan hutan  di kawasan hulu Sungai Cimanuk menurutnya menjadi salah satu faktor penyebab banjir bandang yang terjadi Selasa (20/9/2016).

Anang menambahkan, kondisi hutan yang gundul di kawasan hulu sungai bisa menyebabkan arus air dari hulu ke hilir mengalir lebih cepat. Hal inilah yang terjadi pada arus Sungai Cimanuk saat terjadi banjir bandang yang menelan korban jiwa dan materi cukup banyak dua hari lalu.
“Sejak hujan turun, dua sampai tiga jam kemudian Sungai Cimanuk sudah meluap di kawasan Tarogong Kidul. Ini artinya, tidak ada tahanan air di daerah pegunungan atau hulu sungai sehingga air dengan cepat turun,” ujar Anang.

Padahal seharusnya, lanjutnya, ketika hujan turun, kalau vegetasinya benar, air itu akan lama sampai ke sungai. Ini akan mengurangi resiko terjadinya luapan air sungai yang kemudian menyebabkan banjir.

Masih menurut Anang, jika hutan lindung masih berfungsi dengan baik, maka air dari gunung akan lama sampai ke sungai. Sementara saat ini, berdasarkan citra satelit, nampak kawasan Gunung Cikurai, Guntur dan Darajat berwarna merah yang menandakan kawasan tersebut gundul dan bukan vegetasi permanen.

“Lahan di kawasan tersebut gundul karena mungkin digunakan lahan pertanian, kawasan wisata, bangunan, hotel dan yang lainnya. Ini seharusnya tidak terus dibiarkan karena bisa menimbulkan dampak yang sangat membahayakan,” katanya.

Secara geomorfologi dan topografi, tutur Anang,  jarak antara lereng dan lembah di wilayah Garut memang dekat sekali. Hal ini beda dengan di Bandung, seperti di Gunung Wayang dan Sungai Citarum. Hal inilah yang menyebabkan saat terjadi hujan deras, air bah baru sampai ke Dayeuh Kolot setelah lima sampai enam jam.
“Di Cimanuk, hanya dua sampai tiga jam (air sampai ke Tarogong Kidul), topografi yang curam, resapan air sangat minim sehingga mempercepat air mengalir,” ucap Anang.  (Slamet Timur). ***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI