Anak Korban Setrika Ibu Kandungnya Dikawal KPA

GARUT – Kasus kekerasan kepada MR (7), siswa kelas 1 SD mendapat perhatian dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA). Pemulihan trauma kepada MR harus diutamakan.

Pembina KPA Pusat, Bimasena, menyebutkan pihaknya akan mengawal dan mendampingi korban hingga traumanya hilang. Korban harus beraktivitas kembali dan jangan menjadi bahan perundungan (bullying).

“Ada relawan yang akan terus memantau kondisi anak. Beri kenyamanan kepada anak maunya (tinggal) di mana. P2TP2A juga ada rumah aman, tapi gimana anaknya. Asalkan bertanggung jawab,” ucap Bimasena di Mapolres Garut, Rabu (21/2/2017).


MR menjadi korban kekerasan ibu kandungnya berinisial NN (32). Warga Kampung/Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan itu mendapat sejumlah luka di bagian tubuhnya. Bahkan bagian paha MR terdapat luka bekas setrika.

Menurut Bimasena, faktor ekonomi bisa menjadi salah satu penyebab kekerasan. Namun semua itu masih belum bisa dipastikan karena dalam proses penyidikan kepolisian.

“Tugas bersama agar masalah keluarga tak diselesaikan dengan kekerasan,” ujarnya.

Jika dalam penyidikan terdapat indikasi pidana, diakui Bimasena proses hukum harus ditindak lanjuti. Proses pemulihan harus menjadi fokus agar saat korban kembali ke lingkungan dapat bersosialisasi dengan baik.

“Sekolah tetap harus dilanjutkan, itu hak. Jiwanya harus dapat pemulihan. Peran sekolah dan lingkungan perlu. Jangan sampai saat kembali ke lingkungan malah ada korban kedua karena anak dibully,” katanya.

Menurutnya, wilayah Garut masuk dalam daerah rawan kekerasan kepada anak. Selain Kabupaten Karawang dan Sukabumi. Dalam dua bulan, ada 20 kasus kekerasan yang terjadi di Garut.

“Di ketiga daerah ini memang selalu muncul kasus kekerasan. Seperti Karawang karena letak geografisnya yang dekat jalur Pantura, jadi banyak kasus,” ucapnya. (Men)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI