“Amazing Do’a”

Oleh H.Usep Romli HM

Teriring salam sejahtera bagi Garut yang sedang merayakan hari jadi ke 203. Juga teriring pula “amazing do’a” yang tulus ikhlas, dan Insya Alloh makbul. Sehingga, pada peringatan hari jadi ke 204 tahun depan, Garut tidak lagi menggunakan  semboyan bahasa asing Inggris. Tapi memakai bahasa nasional (Indonesia), atau bahasa daerah (Sunda).

Sebab “Amazing Garut”  tak akrab di telinga khalayak. Kecuali di kalangan segelintir elit yang memang “keinggris-inggrisan” !  Dan hari jadi itu adalah bagi rakyat Garut, bukan untuk rakyat Inggris, segelintir elit, dan bukan pula untuk turis mancanagara yang semakin jarang datang ke Garut, karena takut terjebak macet di Tutugan, Leles.

Apalagi hari jadi Garut, 16 Februari, bertepatan dengan “Hari Bahasa Ibu Sedunia” yang diselenggarakan UNESCO setiap 21 Februari. Yaitu kegiatan untuk mendorong kehidupan bahasa daerah di seluruh dunia. Di Jawa Barat, biasa disebut “Poe Basa Indung”. Diisi berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bahasa Sunda. Resmi diadakan oleh Pemprov Jabar d/h Disbudpar. Juga oleh komunitas-komunitas kesundaan, perguruan tinggi yang memiliki jurusan bahasa Sunda, seperi Unpad dan UPI, dll.

Istilah “amazing” sendiri, dalam literatur Inggris, bermakna hebat, mengagumkan, penuh dayatarik . Sempurna.  Penuh pesona. Tanpa cacat.

Semoga tahun depan,  Garut benar-benar masuk kategori  “amazing”, dengan  keberhasilan menuntaskan berbagai  sengkarut.    Misalnya, masalah pasar Kec.Balubur Limbangan. Pemkab kini sudah melakukan penyegelan, karena pasar itu IMBnya dibatalkan PTUN, belum memiliki Amdal lengkap, dan rencana penyedotan air yang akan merugikan warga sekitar. Tapi pedagang yang ditampung di lapang Pasopati selama tiga tahun, sudah resah. Karena  ingin segera pindah ke pasar baru yang dirundung masalah klasik.

Sementara itu, muncul isu, rencana pembangunan pasar Wanaraja, akan mendapat subsidi Pemkab Rp 40 miliar. Tentu saja mengundang kecemburuan, karena pasar-pasar lain boro-boro disubsidi, persoalannya juga masih terkatung-katung.

Tambah pula bencana yang menimpa puluhan warga di Kec, Cisompet. Mereka harus mengungsi dari tempat tinggalnya akibat tanah retak dan bergoyang. Konon, hal itu akibat alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian tanaman umur pendek.

Belum lagi upaya Pemkab (akan) mengubah Rencana Tata Ruang Tata Wilayah Garut, 2011-2031, yang akan menjadikan bagian utara Garut dari kawasan konservasi ke kawasan industri. Beberapa lahan pesawahan subur yang dikategorikan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebagaimana ketentuan UU No.41 Th.2009 malah akan menjadi lahan pabrik. Dan pihak Pemkab cenderung akan menyetujuinya, walapun jelas akan melanggar RTRW yang masih berlaku dan UU No.41 yang masih berlaku pula. Belum lagi jika ditinjau dari aspek lingkungan hidup sebagaimana ketentuan UU No.32 Tahun 2009.

Semoga enerji dan potensi Pemkab tidak habis tersedot untuk“amazing-amazingan” saat ini, dengan meninggalkan hal-hal substansial yang harus segera diselesaikan, agar benar-benar “amazing.  Sehingga kinerja Pemkab Garut benar-benar nyata. Tidak sebatas slogan yang tak menyentuh kepentingan mendasar masyarakat di beragai aspek dan bidang.

Pada momentum 203 tahun, semoga Pemkab Garut mampu dan mau mengubah pola pikir mencari “nilai tambah ekonomi” semata-mata, yang bersifat kapitalistik liberalistik, menjadi  mencari“nilai tambah berkah Alloh SWT” yang menjadi sumber “amazing” sesungguhnya.

“Apabila penduduk negeri beriman dan bertakwa, Alloh akan membuka pintu berkah dari langit dan bumi.Namun mereka membohongkannya. Maka Alloh timpakan azab kepada mereka sesuai dengan perbuatannya itu”. (Q.S.Al A’rof : 96).

Maka  pada hari jadi ke 204 tahun depan, Kabupaten Garut  tidak hanya “amazing”, namun juga berlimpah berkah rahmat Alloh SWT.****

 

 

Penulis adalah Jurnalis senior, peraih  “Garut Award” 2009, “Anugrah Budaya Gubernur Jabar 2012”, “Anugrah Budaya Dewan Kesenian Garut 2016,” peraih Hadiah “Rancagé 2010” untuk karya sastra, peraih Hadiah Rancagé 2011” untuk jasa terhadap bahasa & Sastra Sunda. Pembimbing ibadah haji dan umroh BPHU Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung, sejak 1996 hingga sekarang.

 

Tinggal di pedesaan Cibiuk, Garut.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN