Alih Fungsi Lahan Konservasi Menjadi Penyebab Banjir Bandang di Garut

PASIRWANGI, (GE).- Berbagai asumsi muncul pascabanjir bandang menimpa tujuh kecamatan di Kabupaten Garut. Kerusakan hutan di hulu Sungai Cimanuk dan Bendung Copong menjadi penyebab paling potensial timbulnya musibah banjir bandang.

Ketua Gerakan Anak Sunda (GAS) Garut, Mulyono Kadafi, mengatakan alih fungsi lahan konservasi kawasan Papandayan menjadi penyebab utamanya. Menurut peninjauannya, kondisi saat ini wilayah konservasi Papandayan sangat memprihatinkan. Para pelaku usaha wisata dan warga sekitar yang menggarap lahan konservasi sudah melampaui ambang batas kewajaran.

“Bayangkan saja, kawasan cagar alam yang ada di wilayah konservasi Papandayan sudah dipagar. Padahal, jangankan dipagar ada daun jatuh dibersihkan saja sudah melanggar aturan,” ujarnya.


Belum lagi, lahan konservasi lainnya yang sudah dijadikan tempat wisata. Padahal sebelumnya kawasan tersebut terdiri dari pepohonan rindang yang menjadi serapan air. Kini kondisinya sudah berubah menjadi tembok dan coran yang dijadikan lahan parkir wisata.

“Jadi pantas saja jika banjir bandang terjadi. Sudah tidak ada lagi pepohonan yang bisa menyerap air di hulu Sungai Cimanuk. Belum lagi bendung Copong yang menahan laju air Cimanuk. Jadi wajar saja kalau air meluap ke ruamah warga yang ada di bantaran Sungai Cimanuk,” ujar Mulyono kepada “GE” Kamis (22/9/2016).

Masih menurut Mulyono, kerusakan di lahan konservasi itu bisa dilihat dari beberapa aliran anak Sungai Cimanuk. Ia menyebutkan, seperti di Sunagi Cipanday yang hulunya berada di kawasan cagar alam kondisi airnya keruh. Hal tersebut mengindikasikan, telah terjadi kerusakan.

“Sungai Cipanday yang ada di Kecamatan Sukaresmi, Sungai Cibeureum yang ada di Pasirwangi dan Sungai Cikamiri yang ada di Samarang aliran airnya semuanya keruh. Itu pertanda telah terjadi kerusakan di hulunya. Ketiga sungai tersebut semuanya bermuara ke Sungai Cimanuk,” ungkap Mulyono.

Bahkan berdasarkan pantauannya, 60 persen lahan konservasi telah rusak. Kondisi tersebut sudah melebihi ambang batas kerusakan.

Kondisi tersebut, diperparah oleh kebijakan Bupati Garut, Rudy Gunawan, yang melegalkan wisata Darajat. Padahal daerah tersebut menjadi salah satu daerah konservasi yang harus dilindungi.

Sementara itu, Kepala BKSDA Seksi Wilayah V Garut, Toni Ramdhani, menyangkal jika telah terjadi kerusakan di wilayah konservasi. Menurutnya, berdasarkan pantauan BKSDA, tidak ada kerusakan di area konservasi.

Bahkan saat terjadi banjir bandang dirinya bersama tim langsung mengecek kondisi Sungai Cipanday yang bersumber dari cagar alam dan kawasan konservasi. Ia mengaku saat itu, kondisi air masih jernih sebagai pertanda kelestarian alam di wilayah konservasi masih terjaga.

“Enggak ko, coba diluruskan. Sungai Cipanday aja masih bersih waktu banjir bandang terjadi,” kilah Toni, Kamis (22/9/2016).

Menurutnya, dari luas 18 ribu hektar kawasan konservasi semuanya masih dalam kondisi baik. Jika kerusakan sampai 60 persen tentunya informasi itu tidak benar.

“Saya pastikan cagar alam masih terjaga. Tidak ada pemagaran seperti yang dikatakan Mulyono,” pungkasnya. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI