Gara-Gara Maksa Minta Dibelikan Motor, Guru Ngaji di Cisewu Tega Habisi Nyawa Anaknya Sendiri

CISEWU, (GE).- Warga Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Sabtu (9/4/2016) dihebohkan dengan penemuan mayat seorang pelajar salah satu SMK swasta. Spekulasi seputar penyebab kematian Irpan Taupiq (18 tahun) itu pun bermunculan. Sebagian pihak menyatakan jika dia adalah korban pembunuhan, sebagian pihak lagi menyebutkan kalau Irpan tewas karena bunuh diri.

Keterangan yang didapat salah seorang warga, Unang Taswara, mayat siswa kelas X warga Kampung Cijoho RT 003 RW 003 Desa Karangsewu, Kecamatan Cisewu itu ditemukan tewas di belakang rumahnya sendiri. Mayat Irpan, jelas Unang, ditemukan oleh ayahnya sendiri pada Sabtu pagi (9/4/2016) sekira pukul 06.00 WIB dengan kondisi leher terkena gorokan alat tajam.

“Korban ditemukan sekitar lima meter dari bagian belakang rumahnya setelah dicari-cari sejak pukul tiga subuh,” ujarnya.

Dengan ditemukan mayat Irpan dalam kondisi leher yang nyaris putus itu, warga Cisewu mengaku aneh dan janggal. Maka tidak mengherankan jika spekulasi pun muncul seputar penyebab tewasnya Irpan, apakah dibunuh atau bunuh diri.

“Ada yang aneh kang, semoga saja polisi segera mengungkap kasus ini,” katanya.

Guna mengungkap penyebab kematian Irpan, jajaran kepolisian melakukan penyidikan dan penyelidikan. Sejak Senin (11/4/2016), dua orang saksi tengah menjalani pemeriksaan. Kedua saksi itu adalah ayah korban bernama Maman (50 tahun), dan kakak korban bernama Horiman (35 tahun).

Maman, ayah korban adalah orang yang pertama kali menemukan mayat Irpan tergeletak tak jauh dari rumahnya setelah dia lelah mencari korban sejak pukul 03.00 dinihari. Korban ditemukan sekira lima meter dari belakang rumahnya. Saat itu, korban ditemukan dalam kondisi leher nyaris putus seperti habis digorok senjata tajam.

Pada Sabtu siang, mayat Irpan pun dikuburkan di Kampung Cijoho. Tapi kegemparan di tengah masyarakat tidak serta merta hilang dengan dikuburkannya mayat korban itu. Malah yang muncul justru bentuk keheranan : mengapa mayat Irpan langsung dikuburkan sebelum diselidiki dulu guna mendapat kepastian penyebab kematiannya.

Setelah berlangsung selama beberapa hari, akhirnya aparat kepolisian berhasil mengungkap kasus kematian seorang pelajar kelas X SMK swasta di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Korban Irpan Taupiq (18 tahun), yang tewas dengan leher tergorok, ternyata dibunuh oleh ayahnya sendiri, Maman (50 tahun). Hal tersebut terungkap dari pengakuan pelaku saat diperiksa polisi.

Menurut Kepala Polisi Sektor Cisewu, AKP. Dede Yayat Hardiat, ayah korban mengakui yang telah membunuh anaknya, setelah pihak kepolisian melakukan penyidikan kasus tersebut cukup lama. “Termasuk meminta keterangan lebih dalam dari ayah korban,” ujarnya, Kamis sore (14/4/2015).

Selain memeriksa ayah korban, tambah Yayat, pihaknya pun mendatangi rumah pelaku. Di sana pihaknya melakukan olah TKP sebanyak tiga kali, akhirnya semua menjurus ke arah keterlibatan ayah korban. Dan tersangka Maman, sekitar pukul 11.15 WIB Kamis siang mengakui dugaan banyak orang selama ini ia yang menghabisi nyawa korban.

Dijelaskan Yayat, saat korban ditemukan tewas mengenaskan di belakang rumahnya sendiri akibat sayatan benda tajam (golok) pada Sabtu 9 April 2016, sekira pukul 06.00 WIB. Polisi menemukan sejumlah kejanggalan kalau Irpan tewas karena bunuh diri.

“Sesuai dengan janji kami paling lambat dalam seminggu mendapatkan keterangan yang pasti, akhirnya baru empat hari pun kami berhasil mengungkap siapa pelakunya. Ternyata, pelakunya tak lain adalah ayah kandung korban sendiri,” ujar Yayat.

Dia menerangkan, dalam pengungkapan kasus ini jelas membutuhkan waktu, khususnya untuk pengumpulkan data-data yang akurat sehingga pihaknya harus melakukan oleh Tempat Kejadian Perkara (TKP) sebanyak tiga kali.

Motif pembunuhan terhadap Irpan tersebut, dikatakan Yayat, berawal dari permintaan korban kepada ayah kandungnya, yakni ingin dibelikan sebuah sepeda motor jenis satria FU. “Kalau kaitan kronologis kejadian atau ancaman hukuman termasuk siapa saja pelaku selain ayahnya, nanti ya di Polres, yang lebih berwenang menjelaskan itu sesuai hasil pemeriksaan tersangka oleh penyidik di sana,” tegas dia.

Tewasnya Irfan yang penuh kejanggalan dan memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat Kecamatan Cisewu itu akhirnya terkuak dengan munculnya pengakuan Maman, ayah korban. Berdasarkan pengakuannya kepada polisi, dia menyekap anaknya saat tidur pulas. Dalam keadaan pingsan, pelaku menggusur korban ke luar rumah melalui pintu dapur. Sekitar lima meter dari rumahnya korban dieksekusi. Akhirnya Irfan meninggal di tangan ayahnya sendiri.

Pelaku pembunuhan, Maman (50 tahun), dikenal warga setempat sebagai guru ngaji dan tercatat sebagai anggota Majelis Ulama (MUI) Desa Karangsewu. Maman, kini diamankan polisi karena mengaku telah membunuh anaknya bernama Irfan Taufiq (18 tahun), siswa kelas X SMK Al Ma’arif, dengan cara menggorok lehernya dengan golok.

“Ya, di sini Pak Maman dikenal masyarakat sebagai anggota MUI Desa Karangsewu dan guru ngaji,” jelas salah seorang warga Kampung Cijoho bernama Ano (32 tahun). Dijelaskan Ano, setelah kematian Irfan pada Sabtu 9 April 2016 lalu, kondisi Kampung Cijoho menjadi mencekam. Sejak Maghrib, warga tak yang ada berani keluar rumah. Begitu pun di jalan-jalan yang biasanya ramai hilir mudik oleh kendaraan dan warga, kini menjadi sepi. “Kami memilih untuk diam saja di rumah, karena selalu dihantui ketakutan,” ujarnya, Sabtu (16/4/2016).

Warga, dikatakan Ano, mengaku senang dengan diamankannya Maman yang diduga pelaku pembunuh anaknya, Irfan. Namun warga berharap agar polisi pun segera mengotopsi mayat korban yang telah dimakamkan, supaya warga bertambah yakin bahwa penyebab tewasnya Irfan benar-benar karena dibunuh. (Deni-Siti)***