Antisipasi Penanganan Bencana, BPBD Garut Bentuk Relawan di Tingkat Desa

Tingginya angka kebencanaan di musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut semakin meningkat kewaspadaan. Dalam prosesnya, BPBD Garut melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (Cesi) kembali melatih kembali para relawan desa tanggung bencana (Destana) yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Garut, melalui Kepala Bidang Cesi dr Ade Rusyana, didamping Kasi Pencegahan dan Kasi Kesiapsiagaan, mengatakan ada perwakilan relawan 3 desa yang masuk destana pada kegiatan pelatihan dan evaluasi tersebut. Ketiga desa tersebut merupakan kawasan dengan bencana yang berbeda, mulai ancaman gunung merapi, banjir bandang, dan bencana longsor.

“Sejak tahun 2011 lalu, Garut dinobatkan sebagai kabupaten yang memiliki indeks kerawanan bencana nomor 1 di Indonesia. Hingga saat ini juga, Garut masih disebut sebagai minimarket bencana di Indonesia, karena segala macam bencana ada sehingga penguatan relawan harus selalu dilakukan,” ujarnya.

Ade mengungkapkan, pada pelatihan yang dilaksanakan mulai Rabu (1/12) hingga Sabtu (5/12), sedikitnya tiga Destana mengirimkan 20 orang relawannya untuk mengikuti kegiatan pelatihan dan evaluasi. Selama empat hari tersebut, para relawan akan dibina, dilatih, bahkan juga di evaluasi kemampuannya dalam menghadapi bencana dari hal yang terkecil hingga terbesar.

Saat ditanya akan output dari kegiatan bersama Destana ini, kata Ade, diharapkan masyarakat lebih peduli lingkungan, memahami potensi bencana yang ada di sekitar, dan jika terjadi sesuatu hal, karena sudah tanggung mereka bisa cepat pulih. Sebelum mengikuti pelatihan, kondisi pemahaman masyarakat akan bencana relatif minim bahkan kurang faham.

Dengan dibangkitkannya semangat para relawan ini, Ade memiliki mimpi agar Garut secara umum bisa siaga dan tangguh saat menghadapi bencana. Menurutnya hal tersebut bisa digapai apabila antara pemerintah dan masyarakat saling berkontribusi dalam penanganan bencana yang terjadi. Farhan SN***