Puluhan Elang Alami Luka Akibat Ulah Manusia

PUSAT Konservasi Elang Kamojang (PKEK) Kabupaten Garut sedikitnya memelihara 24 elang yang kondisinya memprihatinkan. Kebanyakan elang yang ada di PKEK merupakan hasil sitaan BKSDA dari masyarakat.

Hampir seluruh elang yang ditangkar di tempat ini, mengalami luka yang cukup serius akibat ulah manusia. Ada yang mengalami patah tulang sayap, patah lutut kaki, hingga kehilangan narurinya sebagai hewan mata rantai makanan paling atas.

“Elang di sini rata-rata memiliki luka yang cukup serius akibat ulah manusia yang ingin mencoba memelihara di rumahnya. Dari sekian banyak yang di tangkar di sini ada satu ekor yang siap dilepas di alam bebas,” ujar Manajer operasional PKEK, Zaeni Rahman, Jumat (20/11/2015).

Zeni mengatakan jenis elang jawa yang diberi nama Barkah ini, sudah layak untuk dilepasliarkan karena sudah bisa berburu. Sebelum dilepasliarkan, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui. Termasuk masalah kesehatan elang.

“Kebanyakan elang yang datang ke sini itu diberi pakannya seenak pemilik terdahulunya. Jadi butuh waktu untuk membiasakan elang bisa makan daging dan berburu,” ujar Zaeni di PKEK, Jumat (20/11).

Saat tiba di PKEK, tutur Zaeni, banyak elang yang dalam kondisi trauma. Bahkan ada elang yang sering dipukuli pemiliknya hingga terluka di bagian sayap. Selain itu, terdapat beberapa elang yang memiliki penyakit karena tak dirawat dengan baik.

“Jadi saat datang ke sini kami periksa dulu di klinik. Lalu disimpan di kandang karantina sekitar dua minggu. Nanti dilihat penyakitnya sembuh atau belum. Jika penyakitnya mematikan, pilihan terakhir akan disuntik mati,” katanya.

Elang yang sudah dalam kondisi baik, kemudian akan dipindahkan ke kandang observasi selam satu bulan. Perilaku elang akan dipantau dan diberi pakan daging untuk membiasakan jika akan dilepasliarkan.

“50 persen diberi daging dan sisanya makanan biasa. Itu untuk menyesuaikan dulu,” ujarnya.

Zaeni menambahkan, elang yang sehat akan memasuki kandang rehabilitasi dan jika siap akan dipindahkan ke kandang pelatihan terbang. Namun jika elang memiliki cacat, maka akan disimpan di kandang display edukasi. Waktu yang dibutuhkan hingga pelepasliaran tak tentu tergantung kondisi dari elang.

Menurut Zaeni, terdapat tujuh elang yang kecil kemungkinan bisa dilepasliarkan. Pasalnya kondisi elang sudang sangat mengkhawatirkan.

“Di sini ada elang jawa, elang ular dan elang rontok. Kemarin ada 31 tapi sudah dilepas tujuh ekor jadi tinggal 24. Dari 24 elang yang ada tujuh ekor sulit dilepasliarkan,” ucapnya.

Dari tujuh yang sulit dilepasliarkan, terdapat satu ekor elang yang diberi nama Tobrin yang tak bisa terbang karena sayapnya telah diamputasi. Memori elang yang kuat, membuat elang mengalami trauma saat berhadapan dengan manusia. Farhan SN***